Read More.. .breadcrumbs {padding: 5px 5px 5px 0px; margin: 0px 0px 15px 0px; font-size:95%; line-height:1.4em; border-bottom:3px double #e6e4e3;} -->

Selasa, 22 November 2011

SAD ENDING



"lebay" komentar seorang cowok saat keluar dri sbuah bioskop.
"selalu gitu" batin gadis yg berjalan disampingnya.
Keduanya berjalan kearah parkiran,cowok itu membukakan pintu mobil untuk Sahabatnya.
"kenapa sih,El?? Filmnya bagus kok " gadis itu akhirnya membuka mulut.
"bagus apanya sih,dari awal smpe akhir kamu nangis terus,apa bagusnya film kayak gitu?" jwb pemuda yg bernama Elang itu.
"aku kan terharu,El" jwb si gadis.
"aku gak suka liat kamu nangis,Cuma gara-gara  film" Jawab Elang.

"aku gak suka yg sedih-sedih,Zy ,apalagi sad ending. Bukankah semua orang mengharapkan akhir yg menggembirakan??"
"tp hidup itu kan gak selalu indah."
"justru karna itu,hidup itu gak selalu indah,trus kenapa kita mesti nambah buruk keadaan dgn nonton atau baca yg sedih-sedih." jelas Elang, sambil tetap konses pada kemudi mobilnya.
"kamu tau mentari zy? ,ia selalu terbit dengan indah,dan tenggelam juga dgn indah,jadi bukan gak mungkinkan kehidupan kita akan selalu indah,kayak mentari" lanjut Elang.

Elang dan izzy ,mereka adalah sahabat dekat, sudah sejak kecil. Tapi kebersamaan dan kebahagiaan mereka sama sekali tdk berkurang malah terlihat terus bertambah seiring kedewasaan mereka.
"kalo aku pribadi sih,lebih suka sad ending,El." ucap izzy tiba-tiba,memecah keheningan yg tadi tercipta diantara keduanya.
Elang hanya mengangkat kedua alisnya.
"buat aku,cerita atau film yang sad ending itu,lbh dapet feelnya" ucap izzy sambil tersenyum manis sekali,
"tapi nggak dgn kisah kita kan??" kata Elang, sambil masih konsen menyetir mobil.
 "kamu salah,El. Bahkan mungkin kita akan menjadi bagian dari sad ending itu sendiri" batin Izzy.
"ohh,iya,tentu. Aku selalu pengen kita semua, selalu pengen bahagia" jawab Izzy mantap.

"ekh,El.. Berarti kamu gak pernah baca novel-novel aku donk??" tanya Izzy,sambil memanyunkan bibirnya,ntar berapa senti.
"hhehe,map yah. Kamu kan tau,aku paling males,baca novel-novel cewek kayak gitu. Lagian kenapa sih kamu selalu nulis novel yg berbau kematian,perpisaha,kenapa gak kamu coba bikin novel dari kisah persahabatan kita, pasti gak ada sedih-sedihnya kayak gitu" jelas Elang, sambil terus melajukan mobilnya melewati jalanan kota bandung dengan kelap-kelip lampu malamnya.
Izzy walaupun baru kelas 2 SMA,tapi ia sudah dikenal sbg penulis yg hebat dan berbakat,setiap ceritanya selalu mampu mengurai air mata setiap pembacanya.

"ini baca ya" kata Izzy,sambil mengangsurkan sebuah buku berwarna kuning dgn judul "seribu burung kertas" tertulis dgn warna biru laut. "ini mungkin buku sad ending  yg terakhir dan kamu harus baca,sampe selesai ya" pinta Izzy.
"yg terakhir sad ending,maksudnya??" tanya Elang, Izzy tdk menjawab,lagi-lagi ia hanya tersenyum.
"iya deh" kata Elang  akhirnya.
Walaupun ia tdk mengerti makna dibalik kata 'yg terakhir' itu??
Rio menghentikan mobilnya,mendadak.
"Adel" gumamnya.
"mana  EL??" tanya Izzy.
"itu Zy.." Elang menunjuk kearah kerumunan orang banyak diujung jalan,
mereka segera keluar dari mobil,menerobos segerombolan orang didepan mereka.
Dan mata mereka sontak melebar,melihat Adel bersimbah darah memangku seorang pria yg terkolek tak berdaya.
Disampingnya terparkir seonggok besi yg bentuknya sudah tdk bisa dibilang mobil lagi.
Adel adalah teman sekelas Izzy dan Elang.

"bangun,ilham , ,bangun,...." Adel terisak,butiran-butiran bening itu sudah mengalir deras membasahi pipinya.

"gak selalu happy ending kan yo??" bisik izzy,lalu menghampiri Adel,,Elang tertegun
"tapi sad ending itu milik orang lain,zy ,dan gak akan pernah jadi bagian dari kita." ucp Elang dalam hati.
Lalu keduanya menghampiri Adel dan Ilham,kekasihnya yg ternyata sudah tewas ditempat karena kecelakaan yg baru saja menimpa mereka.

__6 Bulan Kemudian__

Elang  segera menyambar jaket dan kunci,motornya,ia menggas motornya gila-gilaan,tak peduli maut yg sudah mengintainya.
Beruntung Elang memang lihai mengemudikan motornya,rio segera turun dgn tergesa,RS Paramarta.

Disepanjang koridor rumah sakit itu,Elang terus berlari. Ia berkali-kali menabrak orang yg berlalu lalang,wajahnya mengisyaratkan kekhawatiran yg mendalam. Sejak menerima kabar bahwa Izzy koma,yg ada dibenaknya tentu hanya gadisnya itu.

pintu kamar rawat Izzy dibuka,pemandangan didepannya membuat Elang ragu untuk melanjutkan langkahnya,tapi sedetik kemudian diteguhkan hatinya. Izzy sudah tertidur pulas sejak 3hari lalu, Elang menghampiri tempat tidur Izzy. Dibelainya rambut Izzy yang biasanya terurai hitam dan indah,tapi kini sudah mulai tanggal dari kepalanya.

"mimpi kamu,udah berapa episode,Zy?? Bangun donk,apa kamu gak kangen sama aku?" Elang mulai bergumam kecil, sebenarnya sudah sejak lama ia memendam rasa pada Izzy, namun ia takut bila hanya karena itu Izzy jadi membencinya.

Ia tak menyangka baru seminggu,Elang meninggalkan Izzy ke Yogya pada liburan sekolah kali ini,dan saat Elang kembali ia harus mendapati sahabatnya terkulai lemas diranjang rumah sakit. Elang larut dlm kesedihannya,ketakutan dan cemas telah membayanginya sejak tadi. Tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya pelan.

"jangan nangis,beri dia semangat" kata Ardy sepupu Izzy.
"maafin Izzy  El,dia gak ngasih tau penyakitnya ke elo selama ini. Kanker darah,dan skrang udah stadium akhir" jelas Ardy.
Hati Elang  seakan diruntuhi langit,ia limbung bahkan ia tak lagi mampu merasakan deru nafasnya sendiri.
Pikirannya dihempas jauh,
jauuuhh sekali dari dugaannya.
Gadisnya,gadis yg selama lebih dari 2thn ini menghujaninya perhatian,yg selalu menjadi tamu dlm mimpi-mimpi indahnya,yg selalu tersenyum ceria,ternyata menyimpan rahasia besar.
Rasa sesal pun memenuhi rongga dadanya

"tuhan,pindahkan rasa sakitnya kepadaku,biar aku yg menggantikannya,biar aku yg melawan rasa sakit itu,kembalikan tawanya tuhan,kembalikan senyumnya" pinta Elang dalam hati.

"Izzy gak suka liat lo sedih,lo itu semangatnya dia,kasih dia motivasi,temenin dia,bujuk dia buat bangun,cuma lo yg bisa yo,gw yakin" tambah Ardy.

sudah 2 pekan,tapi Izzy belum juga mau terbangun.
"siapa yg kamu mimpiin sih Zy? Sampe kamu betah bgt tidurnya" ucap Elang yg saat itu sedang menemani Izzy.
Elang memang selalu menemani Izzy ,menceritakan semua kegiatannya,bernyanyi untuknya, Elang berharap Izzy  dapat mendengarnya dan segera sadar.

Tiba-tiba ia teringat akan sesuatu,diraihnya sebuah buku bersampul kuning yg 6 bulan lalu diberikan Adel ,dari dlm tasnya.

"haruskah sad ending?" batinnya.
Ia berjalan gontai kekamar Izzy,ia tdk terkejut ketika melihat Ardy menangis,ia tdk terkejut melihat monitor disebelah tempat tidur Izzy yg berubah jadi garis lurus.

Ia terduduk lemas,gadisnya telah pergi,tak akan ada lagi senyum manisnya,curahan kasih sayangnya,limpahan perhatiannya.
"aku gak suka sad ending shill,aku gak suka,dan gak akan pernah suka" bisiknya.

Tiba-tiba, dari pintu kamar itu terlihat Adel diikuti teman-teman sekelasnya membawa kue Ulang tahun,
“Selamat ulang tahun kami ucapkan selamat panjang umur, kita kan doakan……”
Ya benar, itu hanya acting Izzy untuk memberi kejutan pada ulang tahun Elang yang sudah genap 17 tahun.
Izzy bangun dari tempat tidurnya dan berdiri di samping Elang, dan menghapus air mata Elang yang bercucuran.
“Ih, elang cengeng ya??? “ Izzy menggoda Elang.”
“ Ah elo, bikin senam jantung aja. Apaan sih? Jadi malu kan gue?” Elang sedikit kesal dengan ulah teman-temanya itu.
Kali ini acting Izzy dan ardy berjalan sempurna. Bahkan elang saat itu tak ingat bahwa itu hari ulang tahunya.
“Tiup lilinya tiup lilinya,…..” begitu lagu dinyanyikan oleh beberapa teman-temanya yang datang ke kamar rawat izzy itu. Sampai tiba saatnya pemberian potongan pertama kue ulang tahun,
“Potongan pertama ini gue kasihin buat Izzy, sahabat termaik gue kemaren, tapi sekarang gue mau calonin gue jadi pacarnya. Loe mau gak zy??” Spontan Elang mengatakanya pada izzy.

“Ayo, terima terima terima.” Begitu sorakan Ardy dan beberapa temanya yang berada disitu. Namun ada satu orang yang terlihat tidak senang dengan itu. Adel. Memang adel sedah lama mendambakan Elang, karena Baginya Elang lah yang bisa menggantikan Posisi Ilham dihatinya.

Hari-hari kemudian mereka lewati bersama, semua merasa senang kecuali Adel yang masih sangat sulit menerima hubungan Izzy dan Elang. Berbagai cara telah ia tempuh untuk berusaha mendapatkan Elang yang ia damba-dambakan. Semua jalan hampir ia tempuh, namun apapun yang ia lakukan malah membuat Elang geram dan membencinya seperti tak mengenalnya.
Putus asa hamper mendera Adel, sampai-sampai saat di kantin ia bertemu dengan Mitha, teman lama Izzy, lebih tepatnya teman Izzy saat masih SD. Kemudian Mitha menceritakan kisah Izzy dan Elang sejak masih di SD mereka, Dita kemudia menceritakan dari awal kisah Izzy dan Elang. Sejak SD mereka memang sering jadi amukan Guru-guru SD karna ketahuan Pacaran, “ini salah satu kegilaan mereka waktu kelas 5 SD yang paling aku inget”
Dulu di SD Nusa Bangsa, tepat saat jam istirahat dimana semua murid sibuk bermain dan jajan di kantin, dua orang gadis yang bersahabat dekat duduk di bangku taman sambil memperhatikan murid-murid lelaki yang sedang berpanas2 main basket di tengah lapangan. Salah seorang di antara murid laki2 itu, Elang, sang kapten basket, tampak berkali2 melemparkan pandangan ke bangku taman yang diduduki dua cewek tadi, Izzy dan Mitha.
Awalnya Izzy dan Mitha tidak begitu peduli. Sampai akhirnya Izzy  yang agak risih karena merasa terus diawasi, mengungkapkan ketidaknyamanannya tersebut pada Mitha. Sambil melirik ke Elang, Izzy  pun berbisik pada Mitha, “liat deh, itu orang! Sok keren! Gaya-gayanya aja pemain basket”. Mithapun tak bisa berbuat banyak, mengingat mereka hanya anak cewek yang nggak sepantasnya menanyakan keanehan sikap Elang tersebut pada orang yang bersangkutan.
Izzy pun berusaha berbaik sangka dengan menganggap sikap aneh Elang  yang terus memperhatikan dirinya dari kejauhan itu, adalah suatu bentuk keramahan yang selalu ditunjukkan Elang  pada semua teman2nya di Sekolahnya ini. Namun ternyata nggak berhenti sampai disitu aja. Berkali2 Elang  tampak berusaha mencuri perhatian Izzy  dengan membuang bola ke arah Izzy dan Mitha, lalu meminta ijin pada teman2nya untuk mengambilkan bola itu. Setelah berada di depan Izzy dan Mitha, Elang lantas melempar senyum manis pada Izzy dan segera lari ke lapangan untuk kembali melanjutkan permainan. Izzy dan Mitha cuma bisa saling berpandangan heran.

Tapi karena Elang melakukannya nggak cuma sekali dua kali, melainkan berkali2, akhirnya dengan segenap kecurigaan yang membuncah di dada, Izzy pun memberanikan diri menghampiri Elang di tengah lapangan. Semua anak cowok pada ngeliatin, tapi Izzy nggak peduli. Setelah berada tepat di hadapan Elang, Izzypun langsung blak-blakan ke Elang, “heh! Elo, kurang kerjaan ya? Kalo naksir ngomong aja! Dasar pengecut loe! …” Telunjuk Izzy berkali2 mampir ke dada Elang.

Elangyang kaget melihat keberanian Izzy, hanya bisa tersenyum malu dengan pipi yang bersemu merah jambu. Elang nggak bisa berkata2 apa2 lagi, karena ternyata isi hatinya udah terlanjur ketahuan. Elang cuman bisa menatap dalam ke mata Izzy. Tiba2 Rayhan menghampiri mereka berdua, hendak mengajak untuk melanjutkan permainan yang sempat terhenti. Sebelum sempat Rayhan mengutarakan maksud dan tujuannya, Elang malah membisikkan sesuatu ke telinga Rayhan, “cantik banget ya cewek itu,……”
Rayhan hanya bengong dapat bisikan dari Elang, Tiba2 seorang murid teladan nan kalem, Andik, datang ke tengah2 mereka berdua. Dengan buku2 tebal yang baru diangkutnya dari perpus, Andik pun memberi sedikit wejangan pada Izzy dan Elang  yang terlihat berseteru di tengah lapangan, “masih pada Sd aja kayagitu. Apa jadinya kalian nanti! Dasar !!…”
Izzy  pun akhirnya memilih mengalah dari ‘perseteruan’ dengan Elang. Namun belum sempat kakinya berbalik arah, Elang buat ulah lagi. Kali ini kayaknya sengaja nyindir2 Izzy deh… Sambil menggendong bola basket di lengan kirinya, Elang mengeraskan volume suaranya dan bernyanyi, “Oh.. tiada yang hebat dan mempesona ketika kau lewat... di hadapanku.. biasa saja. Waktu perkenalan.. lewatlah sudah.. ada yang menarik.. pancaran diri.. terus menganggu. Mendengar cerita sehari2... yang wajar tapi tetap mengasyikkan..”
Hati Izzy sedikit berdesir ! waktu si Elang bilang gitu… Izzy nggak mungkin ngebohongin perasaan sendiri. Setelah berkali2 menelan ludah dan menatap Elang sekilas, Izzy  pun langsung pergi dari lapangan basket itu yang sudah banyak kerumunan adik kelas yang berusaha ingin tahu saja.

Lalu Izzy pun kembali ke bangku taman dan berbincang dengan Mitha. Namun disitu Izzy malah ragu dengan perasaannya pada Elang. Izzy pun mengutarakannya ke Mitha,  “apa sih yang gue lakuin tadi? Malu- maluin aja. Bener tuh kata andik! Anak SD aja pacaran gimana Gedenya??…”

Nggak berapa lama sesosok cowok dengan satu pot bunga mawar menyeruak dari kerumunan. Elang menyodorkan pot bunga mawar itu ke Izzy, gak berapa lama guru BP datang dan memarahi Elang karena mencuri pot di depan kantor guru, Elang lari pontang panting., Sambil ngos2an, di tengah perjuangan muterin lapangan basket, Elang pun berkoar2 ke arah Pak Dani, “Apaan sih? Orang Cuma pinjem aja dimarahin. mau pingsan nih..”
Izzy  yang terlanjur tahu kalo mawar itu nyolong dari ruang kerja Pak Dani, langsung cemberut, melengos dan berteriak keras2 ke arah lapangan, biar Elang denger. “Jiwa maling loe!!!”
Izzy pun jadi nggak tega ngeliat Elang yang udah berjuang demi dirinya, dengan lari2an di tengah lapangan akibat diuber2 Pak Danie. Demi melihat Elang  yang berpeluh alias banjir keringat, dengan napas putus2, akhirnya rasa iba Izzy pun muncul. Kemudian Izzy bilang, “Udahlah pak, kan bunganya cumin pinjem aja, gausah dimarahin ya pak.…” katanya manis di depan pak dani yang juga kelelahan mengejar Elang. “Itu salah satu cerita mereka saat SD, ada cerita yang lain lagi” lanjut Mitha yang sangat bersemangat saat itu.
“Oke deh certain yang se-detail-detailnya oke” ia hanya bisa meredam emosinya saat mendengar cerita dari Mitha.

Tak berapa lama sebelum cerita dilanjutkan oleh Mitha, bel masuk sudah berbunyi, saat naik tangga, tiba-tiba Adel terpeleset dan terjatuh dari tangga berguling-guling, kemudian Adel berhenti di bawah, Mitha langsung turun tangga dan meminta bantuan, Pihak sekolah menelepon ambulan, sementara Adel mulutnya mengeluarkan darah segar. Saat ambulance datang nyawa adel tidak tertolong lagi. Semua siswa di sekolah itu berduka cita. Elang sangat merasa bersalah karna selama ini ia membenci adel dan belum sempat minta maaf padanya.

Izzy membisikkan ke telinga Elang “tuh kan sad  ending lebih berpeluang terjadi pada manusia kaya kita jadi apapun ya, kita harus terima, gak harus happy ending kan?”
Elang menundukkan kepalanya merasa bersalah pada Adel, Ia merasa lebih senang hidupnya lebih beruntung dari adel. Dahulu kekasihnya meninggal kecelakaan, sekarang ia harus meninggal hanya karena tangga licin.

2 hari kemudian Elang diajak Izzy ke rumah sakit untuk menjenguk mamanya yang rawat inap karena harus operasi  kagker rahim, sambil menunggu operasi, Izzy dan Elang  berbincang-bincang di kamar rawat mamanya yang kebetulan letaknya sama persis seperti saat Izzy dirawat karena DBD dan saat Izzy memberikan Kejutan Ulang tahun ke 17 elang.
Di balik dinding putih yang tertutupi oleh cahaya itu seseorang bersembunyi, dengan hati hati ia melirik ke koridor dengan penerangan yang remang remang, kosong.. sosok itu pun menyiapkan segala sesuatunya, ia memastikan selongsong peluru pada pistolnya telah terpasang dengan baik

Dengan mengendap endap, sosok tadi berjalan di koridor, senyum liciknya merekah begitu ia melihat nama yang ia cari tertempel di pintu, dan dengan hati hati pula sosok itu masuk ke dalam ruangan serba putih itu.
“haha, mau bunuh gue? Lu siapa?’ tanya Elang dengan nada mengejek

“gue Gilang, oh elo yang namanya Elang? Sok hebat loe! kata sosok itu lalu mempersiapkan pistolnya.
“hah? lo mau bunuh gue pake itu? Dangkal banget otak lo, siapa sih yang nyuruh lo?perasaan gue gakpunya musuh deh !  Hahaha pecundang” cela Elang
“diem! Gue ngelakuin ini karna lo udah nyelakain adek gue! ADEL! Lo inget! Sekarang lo berdiri!”
Elang pun akhirnya mengalah, ia berdiri di samping ranjangnya, matanya menangkap seseorang yang ternyata bersembunyi di balik tembok kamar mandi, rasa kesal dan marah bercampur aduk dalam dirinya ketika ia melihat sosok itu,
“ngapain lo liat ke belakang? Mundur!” kata Gilang lagi dan kali ini pistolnya sudah siap, dan telah mengacung ke arah Elang
Elang pun mundur dan menyadari dirinya sudah tersudut dengan kaca di belakangnya
Dan Gilang  yang mengenakan berbaju serba hitam dan bertopeng itu pun telah siap dengan pelatuk di pistonyanya “siap siap El” ujarnya sambil tersenyum senang

Peluru yang di tembakkkan Gilang meluncur dari pistolnya ke arah Elang, namun..
Ternyarta seseorang yang sejak tadi bersembunyi di balik tembok kamar mandi muncul dan mendorong Elang  jatuh, namun sialnya, peluru itu sempat menembus perut samping izzy dan meluncur keluar, memecahkan dinding kaca di belakang Izzy, dan membuat ruangan itu menganga dengan lobuang yang mengarah langsung ke jalanan
“Izzy? Mau ikutan mati bareng pujaan hati elo! Minggir sama kalo loe masih pengen hidup!!!!”
Elang langsung menghampiri Izzy yang jatuh dengan perut bagian samping yang mengucurkan darah “SIALAN!!” teriak Elang lalu mendekati pria bertopeng itu dan..
Satu pukulan telak berhasil membuat Gilang tersungkur, namun karna Elang, tidak cukup tangguh dalam hal pukul memukul, akhirnya ia terjatuh di samping Izzy. ia merasa sepeerti ada ribuan pisau yang menghujam kepalanya, membuat pandangannya mengabur dan kepalanya seolah berputar
“el-el” Izzy memanggil nama itu untuk meraih tangan Elang  yang terus terusan memegangi kepalanya

Tak lama Gilang bangkit, matanya menatap Elang dan Izzy dengan tatapan yang sangat dalam, seperti ada percikan percikan api yang terus mengompori dirinya, dalam catatan membunuhnya ia tidak pernah gagal satu kali pun, dan ia tidak mau prestasinya sebagai pembunuh bayaran harus jatuh oleh anak SMA

Gilang menendang Elang ke arah dinding yang telah kehilangan kacanya itu, sebuah potongan kaca yang cukup besar menancap tepat di tangan kiri Elang, dan tendangan tadi telah berhasil membuat Elang bergantung di luar karna ia terjatuh dari lantai ruangannya
Izzy  menerjang kaki Elang dan membuatnya jatuh terjerembab
Izzy  meraih tangan Elang yang tergantung di ujung lantai, dengan seluruh keberanian dan kepercayaannya ia berusaha untuk mengangkat Elang kembali ke ruangan itu, namun tuhan berkata lain, tangan Izzy   yang sudah licin dengan darah perlahan merosot, namun seolah tidak kehilangan akal, Izzy menggunakan tangan satunya untuk menarik Elang,  sayangnya hal itu justru membuat dirinya perlahan merosot

“lepasin Zy..!! please Lepasin aku!” pinta Elang

“aku enggak mau! Kalo kamu mati, aku juga harus mati El..” elak Izzy tanpa melepaskan pegangannya pada Elang,
Elang benar benar tidak mau kekasihnya harus pergi secepat ini, ia tau,mungkin ini memang takdirnya, a, ia tidak mau menyakiti Izzy lebih jauh,please, lepasin tanggan aku”
“Biarin aku pergi samakamu!”
Elangterkejut dengan pernyataan Izzy, tapi ia tetep pada pendiriannya ia tidak mau Izzy ikut merasakan sakit jika mereka jatuh berdua, tepat saat Elang akan menancapkan potongan kaca pada tangan Izzy agar Izzy bisa melepaskan tangannya tiba tiba

“ANDA TERKEPUNG, ANGKAT TANGAN ANDA, LEPASKAN SENJATA ANDA”

Seorang polisi menodongkan pistolnya di kepala Gilang, gilang hanya menghela napas lalu ia berbalik dengan perlahan, namun saat ia berbalik
Gilang menendang tubuh Izzy hingga ia terjatuh dari lantai kamar itu, dan terjun bebas dari lantai 7

“kurang ajar!”  mitha dan Ardy, maju dan memukuli Gilang setelah akhirnya di tarik oleh polisi karna mereka akan meringkus Gilang,

Dan…..

Tenang..

Dingin...

Sejuk...

Mungkin itulah yang dirasakan oleh Elang dan Izzy, ketenangan dunia malam kini mereka rasakan, dingin dan sejuknya angin di malam hari menemani mereka untuk masuk ke kehidupan mereka selanjutnya, gaya gravitasi bumi seolah mengecil, memperlambat jalan mereka menuju kematian, membiarkan mereka menikmati detik detik terakhir kehidupan mereka di bumi, membiarkan mereka untuk saling menikmati kehangatan satu sama lain dalam pelukan terakhir mereka di dunia..


Hidup pasti memberi keadilan bagi siapapun yang sudah menjalani kehidupan..

Dan keadilan yang mereka cari akan mereka temukan di akhir kehidupan mereka..


Hanya mereka..

dan alam....

karna kita tau..

Di akhir kehidupan...

Hidup akan selalu adil...

  JLTHE END JL

Kamis, 03 November 2011

RIO SI TUKANG OJEK MENDADAK TAJIR (CERPEN)



hope you like it (CERPEN)


"panas..panas..panas..panas hari ini.., kagak dapat duit pula hari ini.." (lagu gigi NAKAL)

heyy..heyy..hey.. para manusia maupun para orang utan... (di tabok pembaca)

saiia adalah MARIO STEVANO ADITYA MALING.. eh salah kamsudnya MARIO STEVANO ADITYA HALING..

gue dikenal sebagai TUKANG OJEK paling ganteng seantero kolong jembatan hahaha.. (bangga amat sie Rio jdi tukang ojek? -_-)


itu tuh yang nyanyi lagunya gigi di edit tuh gue tauuukk.. gue lagi nongkrong di tempat biasa para tukang ojek lagi nyari penumpang. sialnya satu hari ini gue gak dapat satu penumpang pun. sial kan gue hiks..hiks.. :'( (nangis kejer di comberan ki haji bodong)


"woy yo sobat gue paling ganteng tapi lebih gantengan gue pastinya" djiiiaahh nih anak pertama-tamanya muji-muji gue, eh akhirnya muji diri-sndiri.. ckckck.. dasar bocah sedeng (sambil geleng-geleng kepala)


"ganteng pala loe botak, loe pagi-pagi gini udah ngegangguin gue dalam misi pencarian penumpang aja. sono pergi cari penumpang juga. jangan males-malesan aja kerjaan loe.." gue ngemeng panjang kali lebar kali tinggi kayak ayam yang mau beranak.. (emang ada? yasutralah tak usah dipikirin hihihi)


"halah yo..yo.. klo loe masih duduk disini juga gak bakalan dapat penumpang tauukk.. udah pergi kek loe ke monas atau ke puncak atau kemana pun kek.." nih anak bloon apa o'on yak? masa dia nyuruh gue ke tempat begituan, emangnya gue mau bertamasya apa?


"heh loe bloonnya kgak ilang-ilang ya yel dari sebelum loe berojol. gue itu mau nyari penumpang dodol bukan liburan." (peace GFC ^^v)


"hah? iya keh? bukannya loe tadi nanya ama gue dimana tempat liburan yang asoy?" sie iel ini mau aja gue timpuk pake panci bokongnya biar kagak amnesia lagi huuuh.. dasar loe IELemot... :@


"alah udahlah cape gue ngomong ama loe, bisa ikutan gila gue ntar kaya loe. udah sana-sana iel si tukang becak, cari penumpang yang banyak dah loe jangan ngegosip kaya bapak-bapak kepanasan." gue lama-lama bisa gila kalo dekat-dekat ma nih anak. habisnya oonnya kagak ketulungan.


"heh enak aja loe, ini tuh mobil bukan becak! mata loe udah katarak yha?" alamak tolong anak mu yang ganteng bin manis bin cakep bin keren tapi sayangnya tukang ojek dari si iel yang bloon bin oon bin dodol bin bodong dan tukang becak ini. huuaaa emmaakkk. :"((( (cengeng amat sih loe yo, si amat aja kgak cengeng)


"heh jelas-jelas ini becak eh malah loe bilang mobil, mata loe tuh katarak" ah gue cabut aja dah ketempat yang laen, yang penting jauh-jauh dari nih anak. takut beneran gila gue.


"ish gak percaya lagi, udah dibilang ini tuh mobil bukan becak. kalo loe masih gak percaya lebih baik kita tanya ama orang.. ehhmm siapa ya? oh itu tuh si Ray.. ayo kita tanya ke dia" nih anak bukannya bloon lagi tapi setres akut


akhirnya dengan berat hati tapi ringan jantung (bahasa apa pula tuh?) gue mengikuti si iel ke tempat si Ray lagi jualan es cendol di empang Roma irama..


"woy Ray yang ganteng tapi lebih gantengan gue pastinya" ya ampun dia manggil orang koch pake kata begituan yak? gak mutu amat. tauukk ah terang


"iya ada apa iel yang manis tapi lebih manisan gue?" pembaca-pembaca bentar dulu yak? saiia mau pingsan dulu gara-gara ngedenger kata-kata paling buruk dari si Ray ma si iel.. PLAAKKK (di tabok penulis)


*GANGGUAN SINYAL MODE ON*


penulis: apa-apaan loe pake adegan pingsan segala? gak ada tuh di naskah!

gue: lah? loe baru tau gue ganteng? ya ampun kemana aja mata loe selama ini?

penulis: ah.. kagak nyambung loe. dasar dodol..

gue: wah gue mau tuh dodol garutnya.. bagi-bagi dunk penulis..


penulis langsung ngacir sambil goyang-goyang dombret kaya pocong ngesot, kayanya dia mau ngambil dodol garut buat gue deh asiikkk...asiikk..


*GANGGUAN SINYAL MODE OFF*


setelah gue bangun dari kepingsanan gue (apa pula tuh?) gue masih melihat si Ray berbicara bahasa italia sama iel.. eh salah kamsudnya lagi bicarain tentang tuh becak dan pastinya pake bahasa indonesia. kan saiia pecinta bangsa INDONESIA haha..


"Ray.. Ray.. itu becak apa mobil? masa si si Rio bilang itu becak. kan itu mobil.." iel memulai pertanyaannya pada Ray. pastinya si Ray bilang becak lah, dodong amat si iel..


"owh itu.. itu mah namanya MOBIL" alamakkkk apa salah hamba bisa punya teman gila begini. ya tuhan ampuni dosakuh dan kedua ibu bapakku (kagak nyambung yo..)


"kan Rio gak percaya sama gue. udah jelas-jelas itu tuh mobil" ya ampun lebih baik sekarang juga gue ngacir dari sini


gue langsung ngegas motor ojek kesayangan gue ini dari tempat orang-orang gila berkumpul.. gue liat si iel masih asoy aja ngegosip ama si Ray yang lagi jualan es cendol.


gue cape muter-muter jakarta gini juga kagak dapat penumpang. haduuuhhh gimana yak? mana perut gue udah dangdutan lagi..

gue terus-terusan muter-muter kaya anak ayam kehilangan neneknya *?*. gue langsung berhenti di taman yang indah banget. gue sering kesini untuk ngilangin penat gue.


gue lihat-lihat di sini kagak ada orang yak? cuma ada gue disini. biasalah namanya juga taman ini lumayan jauh dari kota. jadinya masih banyak yang gak tau sama nih taman.


gua cari tempat duduk yang nyaman. gue ngeliat tempat duduk di bawah pohon pinus yang rindang. gue langsung duduk di tempat duduk itu, sejuk banget dah. gue mengedarkan pandangan ke sekeliling lagi. tiba-tiba mata gue tertuju pada koper coklat yang ada di seberang tempat duduk gue.. apaan tuh ya? ah gue liat aja, dari pada hidup penasaran (mati penasaran kalee -_-)


gue buka pelan-pelan tuh koper, gue langsung terbelalak ngeliat apa isi itu koper. oh my god gue kagak mimpi kan.. gue ngeliat uang kertas yang warna merah buuuuaaaannnyaakkk banget.. mata gue ampe ijo gini ngeliat uang segini banyak. aduuhhh apa gue ambil aja yah nih koper, kan gak ada yang punya.. aduhh gimana ya? (bingung mode on)


yasutralah gue bawa pulang kerumah aja, siapa tau ini tuh rejeki yang di kasih tuhan buat gue hahhahahayy..

gue langsung bawa tuh koper kerumah.


@rumah



"yeeyyy ka iyo udah datang.. ka, itu apaan ka?" ini tuh adek gue si Ozy. umurnya masih 5 tahun, lucu banget deh anaknya


"owh ini ka iyo bawa koper,emang kenapa dde?"


"ojy mau koper kaka.. bagi kopernya."


"lah? untuk apa kopernya sama ojy?" gue bingung dah sama nih anak, buat apa juga minta nih koper? emang mau di makan?


"ya mau di makan lah ka iyo" djjiiiaaahhh bener-bener dah nih anak. koper aja mau di makan, kayak kagak ada yang lain aja. kan bisa sepatu, kaos kaki, lemari, tv atau piring sekalian. (emang loe pikir ozy alien?)


"ini bukan makanan ojy. ini tuh barang, gak bisa di makan." gue ngejelasin ama si ozy nih susah payah amat dah ckckck


"owh gitu toh" si ozy ngangguk-ngangguk ngerti


"ya udah kaka masuk ke kamar dulu ya?" gue pamit ama si ozy


"iya kaka, ozy juga mau main dulu ama deva" si ozy langsung ngacir keluar


gue langsung masuk ke kamar yang udah sumpek ini. ckck nih kamar mah kagak layak tinggal. yang cocok tinggal di kamar kaya kandang ini ya si penulis.. (di buang penulis ke jurang)


gue langsung berinisiatif untuk ngebersihin rumah gue yang udah kaya gudang peranakan kebo (kebonya elo yo).

biasalah gue kan OKB (Orang Kaya Baru) hahaha jadinya alergi sama yang berantakan-berantakan gini (gaya loe yo)

kamar gue langsung kinclong habis gue pellin pake bokong gue. cara efektif tu, kalo semuanya mau ngikutin ajaran (sesat) gokil (gorila killer) saiia silahkan.. wkwkwk


terus gue sapuin juga ruma gue dari ruang makan, ruang tamu, ruang tv sampe wc umum.. (kerajinan amat wc umum pake di sapu segala)

gue liat si ozy mau pulang kerumah. dari pada dia bosan gue suruh aja dia ikutan beresin rumah..


"dde ojy, dde ikutan beresin rumah ya? biar kaka mau beli semua barang-barang bagus ke pasar. kita kan udah kaya.." gue dengan bangganya ngebilang ama si ozy kalo kami udah kaya, ya secara gue dapat uang segitu banyak. jadi milioner deh gue hahahahaayy


"oh iya ka, kaka pelgi aja bial ojy yang belesin lumah" gue gak jahat-jahat banget kan nyuruh adek gue tang beresin rumah hihihi (ketawa ala kuntilbapak)


gue langsung capcus ke pasar, gue mau beli mobil, cegiva bagus, tv baru, kulkas, mesin cuci, AC pokoknya semuanya dech.. gak lupa juga dunk gue bawa uang 1 juta.. hah? gak cukup? masa? masa gak cukup buat beli tempe? (langsung di tendang ke samudra pasifik)

gue bawa uang 200 juta koch.. gue masukin ke dalam tas biar gak terlalu repot..


masih banyak banget tuh sisa suit di koper yang gue tinggal di kamar.. kira² 10miliar lagi.. (banyak amat? kapan penulis punya duit segitu yak?)


gue borong barang-barang yang ada di pasar, mulai dari baju, sepatu, tas, kain, pokoknya semuanya dech.. oh iya gue lupa gue kan bloem beli CD ckck mana CD gue belom ganti selama 100 tahun..


selesai gue beli CD gue capcus ke rumah. di perjalanan gue jumpa sama si iel sama si Ray yang lagi menggosip ala bapak-bapak beranak. eh mereka langsung nyamperin gue. gue harus cepat-cepat pergi nih. gue lari tunggang langgang sambil ngebawa barang-barang yang udah gue beli udah kaya emak-emak kecolongan kaos kutang dah gue..


"woey yo.. maling di mana loe? bawa barang segitu banyak" ih enak aja nih si Ray ngebilang gue maling.. gue gak maling tauuukkk.. tapi dapat duit huhh.. (sama aja nyuri yo)


"eh enak aja loe bilang gue nyuri, gue itu dapat tauukk..."


"hah? dapat? dapat dimana? kuburan nenek loe?"


"woey nenek gue masih hiduupp, yu now???" ajib dah bahasa inggris gue (ajib dari comberan?)


"yu now?? eh yo yang bener itu yuo nkow.. ckck bego amat loe bahasa inggarisnya" yah sok kepintaran nih si iel, udah tau gue masternya jualan kambing (kagak nyambung banget dah)


"eh loe berdua bego di pelihara, lebih baek noh si nunu tikus sebelah yang dipelihara. yang bener itu you know tauuukkk..." oh iya bener tuh kata si Ray, wah ternyata si Ray pinter juga ya? tapi lebih pinteran gue sih hehe (pinter apanya? pinter nyuri iya)


"eh btw loe dapat di mana thu barang?" akhirnya pertanyaan si iel waras juga (di todong pisau ama iel)


"gue beli nih barang bukan dapat, tadi gue dapat duit di taman.. haha mantap kan gue? jadi milioner dah" bangga amat yak gue? jadi kesan katrok gtu, tapi biarin dah yang penting gue masih hidup *?*


"ha? dapat? dapat berapa?" si Ray antusias amat dah


"dapat sepuluh milliar dua ratus juta (payah amat kata-katanya)"


"waaauuuuuwwwwww banyak banget tuh yo, ckck gak bakalan habis 100 turunan dah"


"haha iya yo, jadi OKB dah loe"


"iya dunk.. yuk ikut kerumah gue, kita rayain keberuntungan gue ini" dengan senang hati gue ajak si iel ama Ray ke rumah gue..


di sepanjang perjalanan gue menceritakan gimana gue bisa dapat tu duit, mereka berdua takjub ngedenger cerita gue ntu sampe-sampe tu mulut nganganya lebar banget..


@rumah



"ojy..ojy..kaka pulang.."


"iya kaka... wah banyak banget ka barangnya.. ckckck" ozy geleng-geleng gak percaya


"ya iya lah, kan kita sekarang udah banyak duit.. hehehe" gue nyengir-nyengir kaya nenek-nenek keselek


tiba-tiba gue nyium bau asap gitu di belakang rumah gue, kaya ada yang dibakar gtu..


"dde ojy bakar apaan sih?" tanya gue yang emang lgi penasaran


"ho'oh bau asap nih" si iel ngangguk-ngangguk setuju


"owh dde ojy lagi bakar sampah yang ada di koper yang kaka bawa tadi, terus kopernya dde cuci"


"owh.. HAH??? APA?? SAMPAH YANG ADA DI KOPER??"


"iya ka.. " ozy ngangguk-ngangguk takut gara-gara gue bentak


"aduh mampus gue jangan-jangan..."


"jangan-jangan apa?" tanya Ray


belum sempat gue menjawab pertanyaan ozy, gue langsung ngacir kebelakang rumah untuk memastikan. dan yang gue pikirkan benar adanya.. si OZY NGEBAKAR DUIT SEPULUH MILLIAR GUE... HHHUUUAAAAA..... :"(((


"OZYYYY KENAPA DUITNYA DIBAKAR???" tanya gue dengan emosi


"o..oo..oo...jyy kkii..kkiii..ra iituu.. samm..pah.." ozy ngomong dengan terbata-bata


"oalahh ozy... gimana nih... huhuhu'' gua langsung nangis-nangis kaya bencong mau diperkosa.. banting sana banting sini


"udah lah yo, jangan di sesali. mungkin tuhan memang pingin kita miskin terusa ya kan Ray?" ish si iel ini malah mana-manasin gue


"iya betul tuh yo.. jadinya kan loe senasib ama kita lge.. jadinya loe ntu OKBTML yah yo?"


"apaan tuh?" tanya gue sambil nangis kejer


"ORANG KAYA BARU TAPI MISKIN LAGI... HAHAHAHAHAHHA " kata Ray dan iel serentak


Ray dan iel langsung lari tunggang langgang keluar dari rumah gue karena gue siap-siap ngejar mereka sambil bawa-bawa golok.. enak aja mereka ketawa diatas penderitaan gue.. gue cabik-cabik dah loe psa.. (anarkis.com)


"AWASS YA LOEEE PADAA....!!"



THE END 

Rabu, 26 Oktober 2011

Si Pelit



Seorang yang sangat pelit mengubur emasnya secara diam-diam di tempat yang dirahasiakannya di tamannya. Setiap hari dia pergi ke tempat dimana dia mengubur emasnya, menggalinya dan menghitungnya kembali satu-persatu untuk memastikan bahwa tidak ada emasnya yang hilang. Dia sangat sering melakukan hal itu sehingga seorang pencuri yang mengawasinya, dapat menebak apa yang disembunyikan oleh si Pelit itu dan suatu malam, dengan diam-diam pencuri itu menggali harta karun tersebut dan membawanya pergi.
Ketika si Pelit menyadari kehilangan hartanya, dia menjadi sangat sedih dan putus asa. Dia mengerang-erang sambil menarik-narik rambutnya.
Satu orang pengembara kebetulan lewat di tempat itu mendengarnya menangis dan bertanya apa saja yang terjadi.
"Emasku! oh.. emasku!" kata si Pelit, "seseorang telah merampok saya!"
"Emasmu! di dalam lubang itu? Mengapa kamu menyimpannya disana? Mengapa emas tersebut tidak kamu simpan di dalam rumah dimana kamu dapat dengan mudah mengambilnya saat kamu ingin membeli sesuatu?"
"Membeli sesuatu?" teriak si Pelit dengan marah. "Saya tidak akan membeli sesuatu dengan emas itu. Saya bahkan tidak pernah berpikir untuk berbelanja sesuatu dengan emas itu." teriaknya lagi dengan marah.
Pengembara itu kemudian mengambil sebuah batu besar dan melemparkannya ke dalam lubang harta karun yang telah kosong itu.
"Kalau begitu," katanya lagi, "tutup dan kuburkan batu itu, nilainya sama dengan hartamu yang telah hilang!"

Cinderella

Cinderella

Once upon a time there lived an unhappy young girl. Her mother was dead and her father had married a widow with two daughters. Her stepmother didn't like her one little bit. All her kind thoughts and loving touches were for her own daughters. Nothing was too good for them - dresses, shoes, delicious food, soft beds, and every home comfort. But, for the poor unhappy girl, there was nothing at all. No dresses, only her stepsisters’ hand-me-downs. No lovely dishes, nothing but scraps. No rest and no comfort. She had to work hard all day. Only when evening came was she allowed to sit for a while by the fire, near the cinders. That’s why everybody called her Cinderella.

Cinderella used to spend long hours all alone talking to the cat. The cat said, “Miaow“, which really meant, “Cheer up! You have something neither of your stepsisters has and that is beauty.” It was quite true. Cinderella, even dressed in old rags, was a lovely girl. While her stepsisters, no matter how splendid and elegant their clothes, were still clumsy, lumpy and ugly and always would be.

One day, beautiful new dresses arrived at the house. A ball was to be held at the palace and the stepsisters were getting ready to go. Cinderella didn't even dare ask if she could go too. She knew very well what the answer would be: “You? You're staying at home to wash the dishes, scrub the floors and turn down the beds for your stepsisters.” They will come home tired and very sleepy. Cinderella sighed, “Oh dear, I'm so unhappy!” and the cat murmured “Miaow.”

Suddenly something amazing happened. As Cinderella was sitting all alone, there was a burst of light and a fairy appeared. “Don't be alarmed, Cinderella,” said the fairy. “I know you would love to go to the ball. And so you shall!” “How can I, dressed in rags?” Cinderella replied. “The servants will turn me away!”

The fairy smiled. With a flick of her magic wand Cinderella found herself wearing the most beautiful dress she had ever seen. “Now for your coach,” said the fairy; "A real lady would never go to a ball on foot! Quick! Get me a pumpkin!” “Oh of course,” said Cinderella, rushing away. Then the fairy turned to the cat. “You, bring me seven mice, and, remember they must be alive!”

Cinderella soon returned with the pumpkin and the cat with seven mice he had caught in the cellar. With a flick of the magic wand the pumpkin turned into a sparkling coach and the mice became six white horses, while the seventh mouse turned into a coachman in a smart uniform and carrying a whip. Cinderella could hardly believe her eyes.

“You shall go to the ball Cinderella. But remember! You must leave at midnight. That is when my spell ends. Your coach will turn back into a pumpkin and the horses will become mice again. You will be dressed in rags and wearing clogs instead of these glass slippers! Do you understand?” Cinderella smiled and said, “Yes, I understand!”

Cinderella had a wonderful time at the ball until she heard the first stroke of midnight! She remembered what the fairy had said, and without a word of goodbye she slipped from the Prince’s arms and ran down the steps. As she ran she lost one of her slippers, but not for a moment did she dream of stopping to pick it up! If the last stroke of midnight were to sound... oh... what a disaster that would be! Out she fled and vanished into the night.

The Prince, who was now madly in love with her, picked up the slipper and said to his ministers, “Go and search everywhere for the girl whose foot this slipper fits. I will never be content until I find her!” So the ministers tried the slipper on the foot of every girl in the land until only Cinderella was left.

“That awful untidy girl simply cannot have been at the ball,” snapped the stepmother. “Tell the Prince he ought to marry one of my two daughters! Can't you see how ugly Cinderella is?”

But, to everyone’s amazement, the shoe fitted perfectly.

Suddenly the fairy appeared and waved her magic wand. In a flash, Cinderella appeared in a splendid dress, shining with youth and beauty. Her stepmother and stepsisters gaped at her in amazement, and the ministers said, “Come with us Cinderella! The Prince is waiting for you.“

So Cinderella married the Prince and lived happily ever. As for the cat, he just said “Miaow!”

Senin, 01 Agustus 2011

Cinta dan Sahabat



Cerpen Cinta dan SahabatCinta dan sahabat, dua hal yang tak mudah ntuk dimengerti. Kadang bisa sangat berarti, namun dalam hal itu bisa membuat luka teramat perih. Aku adalah orang yang berada di tengah-tengah cinta dan sahabat itu. Kini, aku yang begitu merindukan hadirnya seorang kekasih, dalam hangatnya persahabatanku dengan Sisil yang lebih muda satu tingkat dariku.

Tiga minggu di awal semester satu...aku duduk di bangku kelas XII, seabrek kegiatan pun kulalui tanpa kuharus memikirkan cinta menurutku itu hanya membuatku lelah.
Namun, pertemuan itu membuatku melupakan suatu hal, aku yang larut dalam perasaanku terhadap Alan. Aku terlalu bodoh karena terlalu jatuh hati pada orang yang salah, jatuh hati pada orang yang tak pernah menyimpan cinta padaku. Aku tak begitu saja menyalahkannya! Dia tak patut untuk disalahkan, dia hanya korban dari cintaku dan dia terlalu baik mau mengerti akan cintaku padanya.


Dan terlalu naif bila kini aku harus menyesal karena mengenalnya. Karena dia aku dapat merasakan hal terindah, walaupun hanya sekejap. Aku terlalu naif hingga aku pun tidak menyadari Sisil merasakan juga perih yang kurasa. Sisil sahabatku orang yang kupercaya seutuhnya, orang yang selalu berusaha ada untukku. Kini, telah terluka karena keegoisanku.

Seharusnya aku tak pernah hadir di antara Alan dan Sisil. Bila akhirnya luka ini yang kurasa.
Andai saja kusadari dari awal, andai saja ku lebih mengerti mereka, andai saja aku tidak jatuh hati pada Alan, Alan dan Alan. Orang yang kucintai dan selalu ada dalam hatiku walau hati ini terasa perih, kudapat mengerti tak ada gunanya kubertahan di sisimu, karena ternyata kau lebih menginginkan Sisil mengisi hari-harimu. Aku di sini yang begitu tulus mencintaimu dan aku yang selalu berusaha ntuk mengerti dirimu kan selalu menanti dan menata hati lagi hingga bayanganmu pergi hingga tak ada lagi luka kurasa, hingga tak ada lagi kecewa yang terasa.
Aku di sini kan selalu berusaha tegar menjalani hari-hariku, aku kan selalu berusaha tersenyum agar kau bisa bahagia bersama Sisil sahabatku. Walaupun dia telah merebutmu, kisahku dan dia dulu takkan pernah kulupa, dia tetap sahabatku, percayalah dengan sisa kesedihanku ini.

Kumasih dapat bertahan hingga kelak kau mengerti bahwa aku memang mencintaimu. Aku memang menyayangi, tapi aku tak rela tersakiti olehmu saat ini, esok dan sampai kapanpun.
Pertemuan itu berawal dari perkenalanku dengan Alan, seorang cowok yang aku kenal dari temanku, Marcell. Perkenalan yang terbilang singkat juga, aku mulai merasakan getaran cinta itu. Rasa itu mulai menerangi kembali tahta hatiku yang telah lama ditinggal pergi oleh seseorang yang pernah begitu berarti dalam hidupku dulu. Yang sampai saat ini pun aku belum bisa melupakannya.

Alan yang telah hadir untuk mengisi hari-hariku pun membuatku terlelap akan rasa bahagia itu, hingga akupun tak pernah menyadari ternyata semua kebahagiaan itu palsu. Alan orang yang kucintai dengan tulus ternyata datang hanya untuk menyakiti dan menorehkan luka. Luka yang teramat dalam di hatiku. Pertemuan itu juga yang telah menghancurkan semuanya. Hidupku yang begitu indah yang begitu berwarna menjadi hancur akan hadirnya!

Malam itu aku dan Alan sepakat untuk memadu kasih, merajut asa dan menggapai cita berdua. Aku belum pernah merasakan sebahagia ini, aku begitu merasa begitu beruntung bisa dicintai oleh orang yang kucintai. Hari-hari bahagia pun mulai kami lalui. Alan begitu indah di mataku yang membuatku lupa akan segalanya, bila bersamanya. Itu juga yang membuatku merelakan tahta hatiku dipenuhi oleh cintanya, namun lagi-lagi kenyataan tak selalu berjalan sesuai dengan yang kuharapkan.

Minggu pertama hubungan cintaku bersama Alan mulai goyah, Alan mulai berubah dan tidak lagi Alan yang selalu tersenyum untukku. Alan tidak juga bersifat manis padaku, setiap tutur katanya yang menyejukkan hatiku kini terasa mengiris-iris hatiku. Apa yang telah kulakukan padanya hingga dia begitu tega padaku, aku begitu percaya padanya hingga aku pun terluka olehnya.

Hubungan ini berakhir begitu saja, pertemuan singkat itu menjadi menyakitkan. Sahabat pun menjadi pelarian sedih dan kecewa, tapi sahabatku tega mengkhianatiku. Dia yang ternyata merebut Alan dariku, dia merenggut semua kebahagiaanku . Persahabatan yang telah bertahun-tahun kubina bersamanya pun menjadi tak berarti. Aku lelah dengan semua ini hingga aku sempat memutuskan tali persahabatan itu, egoiskah aku?

Aku hanya belum bisa berpikir jernh saat itu, aku merasa semakin tolol, seharusnya kubisa merelakan Alan dan Sisil untuk bersama. Karena mungkin kebahagiaan Alan hanya ada pada Sisil! Aku belum siap kehilangan kebahagiaan itu, aku masih ingin disayangi walau semua itu hanya kebohongan. Aku tak mau merasakan sakit hati ini lagi. Akankah sakit ini akan terganti saat ku melihat kebahagiaan orang yang kucintai dan Sisil sahabatku.

Kini dalam setiap hari-hari sepiku, dalam kesendirianku, aku hanya bisa berharap aku kan memiliki kekasihku lagi, memiliki dia yang telah pergi, karena aku kan selalu mencintainya. Aku kan selalu mengenangnya di dalam hatiku,karena dia telah datang dan pergi dengan menghiasi setiap sudut didalam hatiku dengan cintanya yang sesaat, dan Sisil sahabatku buatlah cintaku bahagia karena kalian begitu berarti untukku...***

--------------------------
Cerpen Cerita Cinta: Cinta dan Sahabat Karya Putri Yuliani, kelas XII .